Jumat, 27 Juli 2012

Cara Melatih Dan Mengenalkan Sholat Anak Sejak Usia Dini

Bismillahirrohmanirrohim.............

Asslamualaikum wr wb

Rasulullah Shalallahu'alahi wassalam telah memerintahkan setiap orang tua agar melatih anaknya shalat ketika berumur tujuh tahun, dan memukulnya bila ia enggan shalat ketika sepuluh tahun.

“Pukullah anak-anakmu karena meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun….” (HR Ibnus Sunni dalam Awwalul Yaumi wal-Lail).
Sejak dini, anak harus diperkenalkan dengan shalat. Demikian halnya dengan pembiasaan berdoa. Orang tua harus terlibat aktif dalam melatih anak rajin shalat dan berdoa, agar mentalitas anak terbentuk dengan kuat secara spiritual.

Dalam praktiknya, ternyata membiasakan shalat kepada anak tidak mudah. Tidak cukup dengan metode deduksi dan induksi. Perlu ditambah dengan keteladanan, bahkan dengan reward dan punishment. Anak-anak tidak merasa diajari atau dilatih shalat. Mereka diajak untuk merasakan kehadiran Allah, Rabb semesta alam, dikenalkan dengan malaikat maut dan diberikan gambaran tentang surga dan neraka.
Inilah yang membuat mereka merasa tergugah untuk shalat. Ingatlah wahai saudaraku, mengajarkan ilmu kepada anak-anak itu bagaikan mengukir di atas batu. Sangat sulit, tetapi mampu menancap ke dalam kalbu. Selamat mengukir akhlak anakmu, dan jangan sekali-kali merasa jemu.


Orang tua mungkin menginginkan anaknya menjadi seorang dokter, insinyur, pengusaha sukses, pegawai negeri sipil (PNS), menteri, bahkan presiden. Apapun cita-cita orang tua muslim terhadap anaknya, satu hal jangan sampai lupa: bekali anak dengan ilmu agama. Tentu, ilmu agama yang harus dimiliki tidak harus mendalam seperti ulama atau ahli agama. Akan tetapi cukuplah ilmu agama dasar yang diperlukan dalam keseharian seorang muslim.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa mencari ilmu itu wajib hukumnya (طلب العلم فريضة)  yang dimaksud di situ adalah ilmu agama. Fudhail bin Iyadh seorang sufi abad kedelapan mengatakan, “Setiap perilaku yang wajib bagimu, maka memiliki ilmu tentangnya juga wajib” Misalnya, kalau shalat itu wajib, maka ilmu tata cara shalat,  wudhu dan bersuci juga wajib.

Belajar agama dapat dimulai sejak usia 3 – 4 tahun dengan cara mengirim anak ke TPQ (Taman Pendidikan Al Quran). Di sebagian TPQ selain belajar membaca Quran, juga dipelajari tata cara shalat. Lulus dari TPQ biasanya anak sudah cukup baik membaca Al Quran dan teks bahasa Arab yang ada harkatnya. Itu menjadi modal awal untuk mempelajari ilmu agama dasar berikutnya. Kalau di tempat kita tidak ada TPQ, maka alternatif lain adalah mengundang guru ngaji ke rumah atau ikut program pengajian di masjid terdekat.

Mampu mengaji atau dapat membaca Quran tentu saja tidak cukup. Karena ilmu agama itu bukan hanya membaca Quran. Banyak sekali macamnya. Tentu saja, tidak semua ilmu agama harus dipelajari oleh setiap individu muslim yang tidak berniat menjadi seorang ulama. Setidaknya ada dua ilmu agama dasar yang harus diketahui oleh setiap muslim:

Pertama,  ilmu aqidah (ideologi) Islam. Adalah ilmu yang membahas tentang (a) rukun Islam yang lima: mengucap dua syahadat, shalat lima waktu, mengeluarkan zakat, puasa bulan Ramadhan, haji bagi yang mampu  dan (b) rukun iman yang enam: percaya pada Allah, pada malaikat-Nya, pada Kitab-kitab-Nya khususnya Al-Quran, pada rasul-rasul Allah khususnya Nabi Muhammad, pada hari Kiamat, pada Qada dan Qadar.

Kedua, ilmu fiqih (syariah) atau hukum Islam Adalah ilmu yang membahas secara teknis tata cara berpeperilaku. Baik dalam bentuk ibadah kepada Allah seperti shalat, haji, puasa, zakat, dan lain-lain. Serta ilmu berinteraksi antar-manusia seperti dalam soal jual beli.

Yang terpenting dari ilmu fiqh yang harus diketahui adalah (a) yang berkaitan dengan ibadah yang rutin seperti ilmu tentang shalat fardhu dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya seperti tata cara wudhu, suci dan najis dan ilmu tentang puasa; (b) ilmu tentang halal dan haram.

Ada lima perbuatan haram yang masuk kategori dosa besar yaitu berzina, membunuh, mencuri, berjudi, minum miras dan narkoba.

Mendidik anak agar melakukan perbuatan yang wajib tentu membutuhkan pelatihan sejak dini. Nabi menganjurkan agar melatih anak shalat sejak usia 7 tahun. Dan memberi sanksi apabila anak meninggalkan shalat saat usia 10 tahun. Perlu dicatat, menurut hukum fiqh, anak usia 7-10 tahun belum wajib melakukan shalat karena belum mencapai akil baligh. Jadi, melatih shalat untuk pembiasaan saja.

Demikian juga, anak harus dibiasakan untuk menjauhi kondisi tidak kondusif yang dapat menjurus ke perilaku haram yang lima di atas. Misalnya, orang tua hendaknya tidak membiasakan berperilaku kasar pada anak agar anak kelak tidak berperilaku serupa. Begitu juga, orang tua harus memberi contoh dalam kata dan perilaku bahwa kejujuran adalah martabat tertinggi manusia, agar anak tidak menjadi pencuri saat dewasa. Pemisahan yang jelas antar lawan jenis yang bukan mahram (muhrim) harus dibiasakan di rumah, agar anak tahu batas-batas pergaulan dan tidak terjerumus ke perzinahan


Tips Melatih Anak Shalat Sejak Usia Dini 


Karena pembelajaran shalat untuk anak usia dini adalah dalam rangka pembiasaan, anda bisa menyediakan sajadah anak yang disukainya agar si anak merasa nyaman, bukan karena kewajiban, maka orang tua dapat melatih anak dengan cara-cara berikut ini :

1.Teladan

Memberikan keteladanan dengan cara mengajak anak melaksanakan shalat berjamaah di rumah. Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak adalah orang tuanya. Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan agar orang tua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh anak adalah gerakan-gerakan shalat.

2. Melatih berulang-ulang

Melatih gerakan dan bacaan shalat pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan cara berulang-ulang  Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat, apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang maka anak usia dini semakin mampu melakukannya. Begitu juga dengan bacaan shalat. Semakin sering di dengar oleh anak, maka semakin cepat anak hafal bacaan shalat tersebut.

3. Suasana nyaman dan Aman.

Menghadirkan suasana belajar shalat yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak dalam menerima seluruh proses pendidikan shalat yang diselenggarakan saat anak usia dini mengikuti gerakan orang tua dalam shalat, pada tahap awal terkadang bisa mengganggu kekhusukan shalat orang tua. 


Orang tua harus dapat memahami bahwa tindakan anak meniru gerakan orang tua adalah proses belajar, sehingga sekalipun anak dapat mengganggu kekhusukan shalat orang tua, anak tidak boleh dimarahi atau dilarang dekat dengan orang tua saat shalat. Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung. 

Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya. 

4. Tidak Memaksa tapi Tegas Beri Arahan Dengan halus.

Tidak melakukan pemaksaan dalam melatih anak usia dini melakukan shalat. Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat  adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan. Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. 

Kemudian, dengan kemampuan ini, anak dapat mencapai tahapan kemampuan baru yaitu dapat melakukan gerakan shalat sekalipun belum berurutan. Pemaksaan latihan kepada anak sebelum mencapai kematangan akan mengakibatkan kegagalan atau setidaknya ketidakoptimalan hasil.Anak seolah-olah mengalami kemajuan, padahal itu merupakan kemajuan yang semu. Disamping itu, latihan yang gagal dapat menimbulkan kekecewaan pada anak atau rasa ”tidak suka” pada kegiatan yang dilatihkan. Dengan demikian, saat anak usia dini tidak bersedia diajak shalat bersama, maka orang tua tidak harus memaksakan anak.

5. Tidak membanding-bandingkan

Secara fisik, semakin bertambah usia anak maka semakin mampu melakukan gerakan - gerakan motorik dari yang sederhana sampai yang komplek. Namun perlu diperhatikan adanya keunikan setiap anak. Bisa jadi tahapan perkembangan gerakan motorik antara anak pertama lebih cepat dibandingkan anak kedua. 

Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan seseorang, dan tidak membanding-bandingkan dengan sang kakak atau anak yang lain yang seusia dengan anak. Bisa jadi sang anak lebih cepat bisa mencontoh gerakan shalat dibandingkan dengan sang adik. 
Dalam kondisi ini orang tua tidak boleh langsung menilai bahwa sang adik tidak pintar seperti sang kakak. Setiap anak harus mendapatkan perhatian dari orang tua hingga muncul penghargaan atas diri anak dan antar sesama anak.
Sumber Tips diatas dari Majalah Female Reader Edisi I/Vol III  )

Semoga bermanfaat sobat dan ajarkan anak kita menjadi insan yang terpuji soleh soleha dunia akhirat....amin

 dan bisa sobat dapatkan info lainnya di google.

 Wasslamualaikum wr wb


Share

0 komentar:



:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))
:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j:
:ka: :kb: :kc: :kd: :ke: :kf: :kg:
:kh: :ki: :kj: :kk: :kl: :km: :kn: :km: :ko:

Poskan Komentar

Silahkan Memberikan Kritik $ Saran :